Senin, 08 Februari 2021

CONTOH PTK SEJARAH KEBUDAYAAN ISLAM SMP/MTS KELAS IX DOC

CONTOH PTK SEJARAH KEBUDAYAAN ISLAM SMP/MTS KELAS IX DOC-Permasahan yang diteliti dalam penelitian ini adalah: 1) Bagaimana penggunaan instrumen evaluasi pada lembar kerja dengan kalimat tanya tingkat tinggi taksonomi Bloom dalam mata pelajaran SKI kelas IX semester satu di MTs ..........  tahun pelajaran 2015/2016?. 2) Bagaimana Kemampuan berpikir kreatif siswa sebelum dan sesudah penggunaan instrumen evaluasi pada lembar kerja dengan kalimat tanya tingkat tinggi taksonomi Bloom dalam mata pelajaran SKI kelas IX semester satu di MTs ............tahun pelajaran 2015/2016?. 3) Sejauh mana penggunaan instrumen evaluasi pada lembar kerja dengan kalimat tanya tingkat tinggi taksonomi Bloom dapat meningkatkan kemampuan berpikir siswa dalam mata pelajaran SKI kelas IX semester satu di MTs ........... tahun pelajaran 2015/2016?.download ptk ski mts/smp

Penelitian ini menggunakan model Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang dilaksanakan melalui prosedur pengkajian berdaur yang terdiri atas 4 (empat) tahap yaitu: Perencanaan, tindakan, observasi, dan refleksi. Dilaksanakan selama 2 (dua) siklus pada siswa kelas IX MTs............. pada mata pelajaran SKI tahun pelajaran 2015/2016. Dengan teknik pengumpulan data tes dan pengamatan/observasi.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa: Pertama, Penggunaan instrumen evaluasi dengan lembar kerja dengan kalimat tanya tingkat tinggi taksonomi Bloom pada mata pelajaran SKI di kelas IX di MTs ................  tahun pelajaran 2015/2016 yaitu meliputi; membandingkan, hubungan sebab akibat, memberi alasan, menyimpulkan, mengelompokkan, menerapkan, menganalisis, sisntesis dan evaluasi. Kedua, Kemampuan berpikir kreatif siswa meningkat dari semula pada tingkatan C1 hafalan dan C2 Pemahaman meningkat pada C3 aplikasi dan C4 analisis dengan menggunakan instrumen evaluasi lembar kerja kalimat tanya tingkat tinggi taksonomi Bloom pada mata pelajaran SKI di kelas IX di MTs ............ tahun pelajaran 2015/2016. 

Ketiga, Penggunaan Instrumen evaluasi pada lembar kerja dengan kalimat tanya tingkat tinggi taksonomi Bloom dapat meningkatkan kemampuan berpikir siswa dalam mata pelajaran SKI kelas IX Semester satu di MTs ..............  tahun pelajran 2015/2016. Bahwa pada siklus 1 siswa yang memperoleh nilai dibawah 70 sebanyak 12 anak (43%) sedangkan siswa yang sudah mencapai tingkat ketuntasan sebanyak 15 anak (57%) dan secara klasikal masih kurang 42%. 

Sedangkan pada siklus 1 siswa yang belum mencapai ketuntasan masih 2 anak (8%) dan sebanyak 25 anak (92%) telah mencapai tingkat ketuntasan, hal ini dapat diartikan bahwa berdasarkan indikator keberhasilan yang telah ditetapkan jika sudah mencaai 85% siswa mencapai ketuntasan maka dapat dikatakan berhasil.Hasil penelitian ini diharapkan akan menjadi bahan informasi da masukan bagi para mahasiswa, tenaga pendidik, para peneliti khususnya dalam hal penggunaan instrumen evaluasi dengan kaimat tanya tingkat tinggi taksonomi Bloom.

Laporan penelitian tindakan kelas ini membahas mapel SEJARAH KEBUDAYAAN ISLAM [SKI] SMP yang diberi judul “Penggunaan Instrumen Evaluasi Dengan Kalimat Tanya Tingkat Tinggi Taksonomi Bloom Untuk Meningkatkan Kemampuan Berpikir Kreatif Siswa Dalam Mata Pelajaran Ski Kelas Ix Semester Satu Di Mts ...Tahun Pelajaran 20../20.. ". Disini akan di bahas lengkap.

PTK ini bersifat hanya REFERENSI saja kami tidak mendukung PLAGIAT, Bagi Anda yang menginginkan FILE PTK SKI SMP/MTS KELAS IX lengkap dalam bentuk MS WORD SIAP DI EDIT dari BAB 1 - BAB 5 untuk bahan referensi penyusunan laporan PTK dapat (SMS/WA/TM ke 0817-283-4988 dengan Format PESAN PTK 108 SMP ).

A.DOWNLOAD PTK SKI SMP TERBARU DOC

BAB I
PENDAHULUAN


A. Latar Belakang Masalah
Pendidikan memegang peranan yang menentukan eksistensi dan perkembangan manusia, karena pendidikan merupakan usaha melestarikan dan mengalihkan serta mentransformasikan nilai-nilai kebudayaan dalam segala aspek dan jenisnya kepada generasi penerus untuk mengangkat harkat dan martabat manusia.contoh ptk ski mts terbaru
Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan pengendalian dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.
Dalam Undang-Undang RI No 20 tahun 2003 tentang sistem pendidikan nasional disebutkan bahwa: “Tujuan pendidikan adalah untuk berkembangnya potensi agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan YME, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab”.

Tujuan pendidikan yang ingin dicapai dapat dikategorikan menjadi tiga bidang, yakni: bidang kognitif (penguasaan intelektual), bidang afektif (berhubungan dengan sikap dan nilai) serta bidang psikomotor (kemampuan/ketrampilan bertindak/berperilaku). Ketiganya tidak berdiri sendiri, tapi merupakan satu kesatuan.
Kemampuan yang menimbulkan perubahan perilaku dalam domain kognitif meliputi beberapa tingkat atau jenjang. Banyak klasifikasi dibuat para ahli psikologi dan pendidikan, namun klasifikasi yang paling banyak digunakan adalah yang dibuat oleh Benjamin S Bloom. Bloom membagi dan menyusun secara hirarkhis tingkat hasil belajar kognitif mulai dari yang paling rendah dan sederhana yaitu hafalan sampai yang paling tinggi dan kompleks yaitu evaluasi. Makin tinggi tingkat maka makin kompleks penguasaan suatu tingkat mempersyaratkan penguasaan tingkat sebelumnya.

Intelegensi merupakan suatu kemampuan mental yang bersifat umum (general ability) untuk membuat atau mengadakan analisa, memecahkan masalah, menyesuaikan diri, dan menarik generalisasi, serta merupakan kesanggupan berpikir seseorang. Orang yang berintelegensi tinggi akan cepat dan tepat dalam mengadakan analisa, memecahkan masalah, dan dapat menarik suatu generalisasi dari suatu masalah dengan tepat, serta cepat dalam melakukan sesuatu, dan memberikan reaksi terhadap suatu stimulus.
Intelegensi dapat diukur dengan alat–alat tes intelegensi. Dalam melakukan tes ini seseorang disuruh melakukan suatu perbuatan (performance test) atau menjawab sejumlah pertanyaan (verbal tes).
Sering kita mengamati guru yang mengajukan banyak pertanyaan dalam proses pembelajarannya di dalam kelas. Pertanyaan–pertanyaan tersebut terkadang sangat banyak sehingga terkesan bahwa guru itu sedang menguji siswanya. Namun, apabila dicermati, jenis–jenis pertanyaan yang dilontarkan hanya sebatas pertanyaan yang membutuhkan jawaban “ya” atau “tidak”, atau pertanyaan yang membutuhkan hanya satu jawaban tertentu. 

Pertanyaan tersebut sama sekali tidak memberi kesempatan kepada siswa untuk berpikir kreatif, yaitu kurang menuntut siswa untuk mengemukakan gagasannya sendiri.
Jenis pertanyaan yang diajukan atau tugas yang diberikan oleh guru sangat berpengaruh terhadap perkembangan ketrampilan berpikir siswa. Pertanyaan/tugas tersebut bukan hanya untuk memfokuskan siswa pada kegiatan, tetapi juga untuk menggali potensi belajar mereka. Pertanyaan atau tugas yang memicu siswa untuk berpikir analitis, evaluatif, dan kreatif dapat melatih siswa untuk menjadi pemikir yang kritis dan kreatif.

Di MTs ...........masih banyak dijumpai guru dalam membuat pertanyaan, cenderung tidak menggali potensi siswa dalam menjawab pertanyaan tersebut, pertanyaan yang dibuat hanya mengacu pada menghafal, mengingat, mendefinisikan saja. Hal ini dapat dilihat pada instrumen tes yang digunakan oleh guru pada waktu ulangan harian dan mid semester. Sehingga instrumen tes yang dibuat oleh guru akan berdampak pada kemampuan berpikir siswa yang hanya berfokus pada hafalan tentang pengertian saja dan lebih cenderung sesuai dengan apa yang ada dibuku, tidak mengembangkan kemampuan kognisi siswa sampai pada tingkat berpikir analisis.
Kondisi di atas menarik perhatian penulis untuk melakukan tindakan penelitian kelas (classroom action research) dengan judul “Penggunaan Instrumen Evaluasi Dengan Kalimat Tanya Tingkat Tinggi Taksonomi Bloom Untuk Meningkatkan Ketrampilan Berpikir Kreatif Siswa Dalam Mata Pelajaran SKI kelas IX Semester Satu Di MTs ...........Tahun Pelajaran 2015/2016”

B. Identifikasi Masalah
Penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas pada kelas IX MTs ........Kecamatan ............... Kabupaten ............... tahun pelajaran 2015/2016 tentang Penggunaan Instrumen Evaluasi dengan Lembar Kerja Kalimat Tanya Tingkat Tinggi Taksonomi Bloom Untuk Meningkatkan Kemampuan Berpikir krewatif Siswa. Adapun identifikasi masalah adalah :
1. Instrumen Evaluasi dengan Lembar Kerja Kalimat Tanya Tingkat Tinggi Taksonomi Bloom Pada Siswa kelas IX MTs .......... tidak menggunakan kalimat tanya tingkat tinggi .
2. Kemampuan Berfikir Kreatif siswa kelas IX MTs .......... masih sederhana.

C. Pembatasan Masalah
Untuk menghindari kemungkinan kesalahan penafsiran dengan maksud utama penulis, maka perlu dijelaskan beberapa batasan yang dianggap penting, antara lain:
1. Instrumen Evaluasi:
Instrumen adalah alat yang dipakai untuk mengerjgakan sesuatu; sarana penelitian (berupa seperangkat tes dan sebagainya) untuk memperoleh data sebagai bahan pengolahan. Sedangkan Evaluasi adalah penilaian. Jadi, yang dimaksud dengan instrument evaluasi disini adalah alat yang dipakai untuk melakukan penilaian yang berupa seperangkat tes. Dalam hal ini yang dimaksud dengan instrument evaluasi adalah Lembar Kerja (LK) yang disusun oleh guru di MTs Darul Ulum Sayan  kelas IX tahun pelajaran 2015/2016.download ptk ski mts kurikulum 2013

2. Kalimat tanya tingkat tinggi: pertanyaan atau tugas yang memicu siswa untuk berpikir analitis, evaluatif, dan kreatif yang dapat melatih siswa untuk menjadi pemikir yang kritis dan kreatif. Kalimat Tanya tersebut dituangkan dalam bentuk Lembar Kerja (LK).

3. Taksonomi Bloom:
Taksonomi berasal dari bahasa Yunani tassein berarti untuk mengklasifikasi dan nomos yang berarti aturan. Taksonomi berarti klasifikasi berhirarkhi dari sesuatu atau prinsip yang mendasari klasifikasi. Semua hal yang bergerak, benda diam, tempat, dan kejadian-kejadian sampai pada kemampuan berpikir dapat diklasifikasikan menurut beberapa skema taksonomi. Taksonomi Bloom yang dimaksud oleh penulis disini adalah yang berkaitan dengan konsep tingkatan dalam berpikir. Tingkatan berpikir yang dipakai oleh guru dalam menyusun pertanyaan atau tugas yang akan diberikan kepada siswa yang meliputi; mengkreasi, mengevaluasi, menganalisis, menerapkan, memahami, dan mengingat.

4. Ketrampilan berpikir kreatif: ketrampilan untuk mengembangkan kemampuan siswa untuk menciptakan hal-hal baru (gagasan/ide, informasi, produk, cara pandang) dengan menggunakan pengetahuan yang telah mereka pelajari sebelumnya. Dalam hal ini adalah ketrampilan berfikir kreatif siswa di MTs ...........

B.PROPOSAL PTK SKI MTS/SMP LENGKAP KURIKULUM 2013

BAB II
LANDASAN TEORI DAN HIPOTESIS TINDAKAN


A. LANDASAN TEORI
1. Evaluasi
a. Pengertian Evaluasi
Menurut Purwanto evaluasi adalah pengambilan keputusan berdasarkan hasil pengukuran dan standar kriteria. Sedangkan menurut Suharsimi Arikunto, pengertian evaluasi diartikan sebagai berikut, suatu kegiatan yang dilakukan melalui kegiatan mengukur dan menilai. Di dalam istilah asingnya, pengukuran adalah measurement, sedang penilaian adalah evaluation. Jadi, Evaluasi adalah suatu kegiatan menilai yang dilakukan dengan mengukur terlebih dahulu. Dari kata evaluation inilah diperoleh kata Indonesia evaluasi yang berarti menilai.
Dari pengertian tersebut evaluasi adalah suatu proses merencanakan, memperoleh, dan menyediakan informasi yang sangat diperlukan utuk membuat alternatif-alternatif keputusan. Sesuai dengan pengertian tersebut maka setiap kegiatan evaluasi atau penilaian merupakan suatu proses yang sengaja direncanakan untuk memperoleh informasi atau data; berdasarkan data tersebut kemudian dicoba membuat suatu keputusan.

Dalam hubungan dengan kegiatan pengajaran. Norman E. Grounlound sebagaimana dikutip oleh Ngalim Purwanto pengertian evaluasi sebagai berikut: ”Evaluation...a systematic process of determining the extent to wich instructional objectives are achived by pupil ”. (Evaluasi adalah suatu proses yang sistematis untuk menentukan atau membuat keputusan sampai sejauh mana tujuan-tujuan pengajaran telah dicapai oleh siswa).
Dengan kata-kata yang berbeda, tetapi mengandung pegertian yang hampir sama, Wrightstone dan kawan-kawan mengemukakan rumusan evaluasi pendidikan sebagai berikut: ”Educational evaluation is the estimation of the growth and progress of pupils to ward objectives or values in the curriculum ”. (Evaluasi pendidikan ialah penaksiran terhadap pertumbuhan dan kemajuan siswa ke arah tujuan-tujuan atau nilai-nilai yang telah ditetapkan di dalam kurikulum.)

Dari rumusan-rumusan tersebut di atas sedikitnya ada tiga aspek yang perlu diperhatikan untuk lebih memahami apa yang dimaksud dengan evaluasi, khususnya evaluasi pengajaran, yaitu:
1) Kegiatan evaluasi merupakan proses yang sistematis. Ini berarti bahwa evaluasi (dalam pengajaran) merupakan kegiatan yang terencana dan dilakukan secara berkesinambungan. Evaluasi bukan hanya merupakan kegiatan akhir atau penutup dari suatu program tertentu, melainkan merupakan kegiatan yang dilakukan pada permulaan, selama program berlangsung, dan pada akhir program setelah program itu dianggap selesai. Yang dimaksud program disini adalah program satuan pelajaran yang akan dilaksanakan dalam satu pertemuan atau lebih, program catur wulan ataupun program semester.

2) Di dalam kegiatan evaluasi diperlukan berbagai informasi atau data yang menyangkut obyek yang sedang dievaluasi. Dalam kegiatan pengajaran, data yang dimaksud berupa perilaku atau penampilan siswa selama mengikuti pelajaran, hasil ulangan atau tugas-tugas pekerjaan rumah, nilai ujian akhir semester dan sebagainya. Berdasarkan data itulah selanjutnya diambil suatu keputusan sesuai dengan maksud dan tujuan evaluasi yang sedang dilaksanakan. Perlu dikemukakan di sini bahwa ketepatan keputusan hasil evaluasi sangat bergantung kepada kesahihan dan obyektivitas data yang digunakan dalam pengambilan keputusan.ptk ski smp mts kelas ix

3) Setiap kegiatan evaluasi-khususnya evaluasi pengajaran-tidak dapat dilepaskan dari tujuan-tujuan pengajaran yang hendak dicapai. Tanpa menentukan atau merumuskan tujuan-tujuan terlebih dulu, tidak mungkin menilai sejauh mana pencapaian hasil belajar siswa. Hal ini adalah karena setiap kegiatan penilaian memerlukan suatu kriteria tertentu sebagai acuan dalam menentukan batas ketercapaian objek yang dinilai. Adapun tujuan pengajaran merupakan kriteria pokok dalam penilaian.

b. Instrumen evaluasi dengan lembar kerja
Pada penggunaan lembar kerja (LK) perlu memperhatikan ciri dan komponen–komponen yang terdapat pada LK tersebut :
1) Dalam soal ada Informasi atau permasalahan yang menginspirasi siswa untuk berpikir. Perlu diperhatikan ketika di dalam LK tersebut informasinya terlalu sedikit maka akan membuat siswa tidak berdaya, sebaliknya jika informasinya terlalu banyak maka akan membatasi kreatifitas siswa.
2) Di dalam LK tersebut memunculkan pertanyaan atau perintah yang; 1) menyelidiki, 2) menemukan, 3) memecahkan masalah dan 4) mengkreasi.

c. Tujuan penggunan pertanyaan tingkat tinggi :
1) Mengembangkan kemampuan siswa untuk menciptakan hal–hal baru (gagasan/ide, produk, cara pandang) dengan menggunakan pengetahuan yang telah mereka pelajari sebelumnya.
2) Mengembangkan kemampuan siswa untuk membuat keputusan berdasarkan refleksi/perenungan, kritik, dan penilaian yang sungguh-sungguh dari siswa sendiri.
2. Tujuan Evaluasi
Tujuan evaluasi pendidikan ialah untuk mendapat data pembuktian yang akan menunjukkan sampai di mana tingkat kemampuan dan keberhasilan siswa dalam pencapaian tujuan-tujuan kurikuler. Disamping itu, juga dapat digunakan oleh guru-guru dan para pengawas pendidikan untuk mengukur atau menilai sampai dimana keefektifan pengalaman-pengalaman mengajar, kegiatan-kegiatan belajar, dan metode-metode mengajar yang digunakan.

3. Fungsi Evaluasi
Secara lebih rinci, fungsi evaluasi dalam pendidikan dan pengajaran menurut Ngalim Purwanto dapat dikelompokkan menjadi empat fungsi, yaitu:
a. Untuk mengetahui kemajuan dan perkembangan serta kberhasilan siswa setelah megalami atau melakukan kegiatan beljar selama jangka waktu tertentu. Hasil evaluasi yang diperoleh itu selanjutnya dapat digunakan untuk memperbaiki cara belajar siswa (fungsi formatif) dan atau untuk mengisi raport atau Surat tanda tamat belajar, yang berarti pula untuk menentukan kenaikan kelas atau lulus atau tidaknya seorang siswa dari suatu lembaga pendidikan tertentu (fungsi sumatif).
b. Untuk mengetahui tingkat keberhasilan program pengajaran. Pengajaran sebagai suatu sistem terdiri atas beberapa komponen yang saling berkaitan sau sama lain. Komponen-komponen dimaksud antara lain adalah tujuan, materi atau bahan pengajaran, metode dan kegiatan belajar mengajar, alat dan sumber pelajaran, dan prosedur serta evaluasi.

c. Untuk keperluan Bimbingan dan Konseling (BK). Hasil-hasil evaluasi yang telah dilaksanakan oleh guru terhadap siswanya dapat dijadikan sumber informasi atau data bagi pelayanan BK oleh para konselor sekolah atau guru pembimbing lainnya seperti antara lain:
1) Untuk membuat diagnosis mengenai kelemahan-kelemahan dan kekuatan atau kemampuan siswa.
2) Untuk mengetahui dalam hal-hal apa seseorang atau sekelompok siswa memerlukan pelayanan remedial.
3) Sebagai dasar dalam menangani kasus-kasus tertentu di antara siswa.
4) Sebagai acuan dalam melayani kebuthan-kebutuhan siswa dalam rangka bimbingan karier.
d. Untuk keperluan pengembangan dan perbaikan kurikulum sekolah yang besangkutan. Sedangkan dengan bahasa yang lebih ringkas, Suharsimi Arikunto menjelaskan fungsi evaluasi/penilaian, sebagai berikut:

1) Penilaian berfungsi selektif
Dengan cara mengadakan penilaian guru mempunyai cara untuk mengadakan seleksi atau penilaian terhadap siswanya.
2) Penilaian berfungsi diagnostik
Apabila alat yang digunakan dalam penilaian cukup memenuhi persyaratan, maka dengan melihat hasilnya, guru akan mengetahui kelemahan siswa. Disamping itu diketahui pula sebab musabab kelemahan itu. Dengan diketahuinya sebab-sebab kelemahan ini, akan lebih mudah dicari cara untuk mengatasi.

3) Penilaian berfungsi sebagai penempatan
Setiap siswa sejak lahirnya telah membawa bakat sendiri-sendiri sehingga pelajaran kan lebih efektif apabila disesuaikan dengan pembawaan yang ada. Akan tetapi disebabkan karena keterbatasan sarana dan tenaga, pendidikan, yang bersifat individual kadang-kadang sukar sekali dilaksanakan. Pendekatan yang lebih bersifat melayani perbedaan kemampuan, adalah pengajaran secara kelompok. Untuk dapat menentukan dengan pasti di kelompok mana seorang siswa harus ditempatkan, digunakan suatu penilaian.

4) Penilaian berfungsi sebagai pengukur keberhasilan
Fungsi keempat dari penilaian ini dimaksudkan untuk mengetahui sejauh mana suatu program berhasil diterapkan. Maka ditentukan oleh beberapa faktor yaitu faktor guru, metode mengajar, kurikulum, sarana dan sistem administrasi

C.CONTOH PROPOSAL PTK SKI UNTUK SMP LENGKAP

BAB III
METODE PENELITIAN


A. Desain Penelitian
1. Subyek Penelitian
a. Siswa
Siswa dalah murid, pelajar. Sedangkan dalam penelitian ini siswa yang menjadi subyek penelitian adalah siswa kelas IX MTs Darul Ulum Sayan Kecamatan ............... Kabupaten ............... Tahun Pelajaran 2015/2016 yang berjumlah 27 siswa.
b. Peneliti dan Kolaborator
Penelitian adalah kegiatan yang dilakukan secara sistematik untuk mengumpulkan, mengolah dan menyimpulkan data, dengan menggunakan metode dan teknik tertentu dalam rangka mencari jawaban atas permasalahan yang dihadapi. Sedangkan orang yang melakukan penelitian disebut peneliti, jadi peneliti adalah orang yang melakukan kegiatan mengumpulkan dan mengolah dan menyimpulkan dari data dengan metode dan teknik tertentu untuk mencari jawaban atas permaslahan yang dihadapi. 

Sedangkan Kolaborator adalah orang yang melakukan kerja sama dengan, dalam penelitian ini sebagai Kolaborator adalah guru mata pelajaran SKI pada MTs Darul Ulum Sayan.
2. Waktu dan Tempat Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan mulai bulan Oktober 2015 sampai dengan bulan Nopember 2015,
2. Desain Penelitian PTK
Dalam penelitian ini menggunakan Konsep pokok penelitian tindakan menurut Hopkins. Daur ulang dalam penelitian tindakan diawali dengan perencanaan tindakan (planning), Penerapaan tindakan (action), mengobservasi dan mengevaluasi proses dan hasil tinakan (observation and evaluation), dan melakukan refleksi (reflecting), dan seterusnya sampai perbaikan atau peningkatan yang diharapkan tercapai (Indikator keberhasilan). Hubungan keempat komponen itu dipandang sebagai satu siklus yang digambarkan sebagai berikut:


B. Prosedur Penelitian PTK
Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dilaksanakan melalui pro sedur pengkajian berdaur yang terdiri atas 4 (empat) tahap yaitu: Perencanaan, tindakan, observasi, dan refleksi. Menurut Taggart sebagaimana dikutip oleh Zainal Aqib prosedur penelitian PTK mencakup:
1. Penetapan fokus masalah penelitian, yang meliputi; a. Merasakan adanya masalah, b. Analisis maslah, dan c. Perumusan Masalah.
2. Perencanaan Tindakan, meliputi a. Membuat skenario pembelajaran, b. Mempersiapkan fasilitas dan sarana pendukung yang diperlukan di kelas. Seperti RPP dan lembar observasi, c. mempersiapkan instrumen untuk merekam dan menganlisis data mengenai proses dan hasil tindakan, d. Melaksanakan simulasi pelaksanaan tindakan perbaikan untuk menguji keterlaksanaan rancangan.
3. Pelaksanaan Tindakan, pelaksanaan tindakan yang meliputi pelaksanaan kegiatan penelitian, waktu dan tempat peneltian. Skenario tindakan yang telah direncanakan, dilaksanakan dalam situasi yang aktual. Pada saat bersamaan kegiatan ini juga disertai dengan kegiatan observasi dan interpretasi serta diikuti dengan kegiatan refleksi.

4. Pengamatan Interpretasi, pada bagian pengamatan, dilakukan perekaman data yang meliputi proses dan hasil dari pelaksanaan kegiatan. Dengan tujuan untuk mengumpulkan bukti hasil tindakan agar dapat dievaluasi dan dijadikan landasan dalam melakukan refleksi. Pengamatan dilakukan oleh kolaborator.
5. Refleksi, pada bagia refleksi dilakukan analisis data mengenai proses, masalah, dan hambatan yang dijumpai dan dilanjutkan dengan refleksi terhadap dampak pelaksanaan tindakan yang dilaksanakan.
Analisis datanya berlangsung terus menerus sejak awal penggalian data sampai akhir PTK. Caranya adalah (a) setiap gejala perubahan dalam PBM dicatat dengan rapi, dikelompokkan sesuai dengan konsep atau indikatornya; (b) diklasifikasi dan dilakukan editing ulang; (c) hasil editing didialogkan lagi baik pada siswa maupun teman sejawat (guru lain); dan (3) verifikasi dan menarik kesimpulan. 

Dengan tahapan sebagai berikut:
a. Tahap Persiapan, meliputi :
1) Merumuskan masalah
2) Mengadakan study pendahuluan untuk mengumpulkan data atau informasi sehubungan dengan masalah yang diteliti.
3) Merumuskan hipotesis
4) Menentukan populasil penelitian
5) Menyusun rancangan penelitian yang akan dijadikan pedoman selama penelitian, yang meliputi :
a) Masalah yang diteliti dan alasan dilakukan penelitian
b) Bentuk atau jenis data yang diperlukan
c) Tujuan dilakukannya penelitian
d) Lokasi penelitian
e) Hipotesa yang diajukan
f) Teknik pengumpulan data dan pengolahan data
g) Pola atau sistematik laporan yang di rencanakan
b. Tahap pelaksanaan penelitian, kegiatan pada tahap ini adalah :
1) Pengumpulan data, dilakukan dengan mengumpulkan data siswa kelas IX  MTs Darul Ulum Sayan 
2) Pengolahan atau analisis data, merupakan kegiatan mengolah data untuk menguji kebenaran hipotesa yang telah diajukan sebelumnya.
c. Tahap laporan penelitian, dalam bagian ini peneliti membuat laporan penelitian dalam bentuk penelitian.

C. Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data yang digunakan ada tiga, yaitu metode: (1) metode Tes. Metode tes, metode ini di gunakan untuk mengumpulkan data nilai berpikir kreatif siswa melalui instrumen evaluasi dengan kalimat tanya tingkat tinggi sebelum siklus (pra siklus), siklus 1 dan siklus 2 hasil pengumpulan data melalui tes/ulangan harian ini kemudian dianalisis dengan pendekatan deskriptif kuantitatif mean; (2) observasi partisipatif, yaitu peneliti terlibat dengan kegiatan sehari-hari orang yang sedang diamati atau yang digunakan sebagai sumber data penelitian.6 Metode ini digunakan untuk melakukan observasi selama kegiatan pembelajaran berlangsung. Pengamatan selama siklus satu dan siklus kedua pada semua siswa kelas IX dilakukan dengan menggunakan format pedoman observasi (format observasi ada dalam lampiran). Hasil pengamatan observasi ini kemudian dianalisis.ptk ski kelas ix mts doc

D. Teknik Analisis Data.
Dalam rangka memecahkan ketiga permasalahan penelitian tersebut di atas, maka teknik analisis data (pemecahan masalah) dalam proses PTK ini adalah: 1. untuk memecahkan permasalahan pertama, peneliti menggunakan instrumen evaluasi pada lembar kerja dengan kalimat tanya tingkat tinggi taksonomi Bloom dalam mata pelajaran SKI. 2. Untuk memecahkan masalah kedua, peneliti menganalisis statistik deskriptif kuantitatif dalam bentuk analisis Mean. Teknik pengumpulan datanya adalah melalui tes. 3. Untuk memecahkan permasalahan ketiga peneliti mengkomparasikan hasil tes dan nilai rata-rata yang dicapai pada siklus 1 dan siklus 2.
Dalam menganalisis data dalam penelitian ini mengikuti model PTK (Penelitian Tindakan Kelas) dengan kegiatan sebagai berikut:

1. Identifikasi Masalah dan Perencanaan Tindakan
Masalah diidentifikasi bersama-sama dengan rekan sejawat guru berdasarkan Identifikasi Masalah yang ditulis guru. Kegiatan ini dilakukan dalam pra siklus,s Identifikasi Masalah ini secara naratif dan detil menjelaskan perencanaan dan pelaksanaan kegiatan belajar mengajar yang dilaksanakan oleh guru, serta refleksi oleh guru. Dari Identifikasi Masalah, diidentifikasi bahwa dalam memberikan jawaban pada soal tes yang diberikan, para siswa cenderung masih belum mampu mengembangkan jawaban dengan lebih mengarah kepada kemampuan berpikir kreatif, hal ini juga terkait dengan soal yang dibuat oleh guru. Berdasarkan diskusi dengan rekan sejawat guru dan juga dari beberapa pustaka, tindakan yang dipilih guru untuk memperbaiki proses belajar mengajar tersebut adalah dengan menerapkan penggunaan istrumen evaluasi dengan kalimat tanya tanya tingat tinggi taksonomi Bloom.

Selanjutnya guru membuat perencanaan tindakan, terdiri dari penyusunan RPP untuk kegiatan belajar mengajar (lampiran 1), mempersiapkan bahan belajar dari berbagai sumber (lampiran 2), mengembangkan latihan dan butir soal untuk evaluasi hasil belajar (lampiran 3), menyiapkan lembar observasi (lampiran 4), meminta satu orang rekan guru untuk melakukan observasi kegiatan belajar, serta membuat denah kelas (lampiran 5) untuk memudahkan pelaksanaan observasi.

2. Pelaksanaan Tindakan dan Observasi
Pelaksanaan kegiatan perbaikan pembelajaran dilakukan dalam dua siklus. Dalam satu siklus dilaksanakan 2 kali pertemuan. Satu kali pembelajaran terdiri dari 2 jam pelajaran.
a. Siklus 1 dimulai dengan pembukaan oleh guru, kemudian guru menyampaikan materi yang akan dibahas selanjutnya Siswa dibagi dalam kelompok-kelompok kecil, kemudian setelah guru memberikan lembar kerja pada masing-masing kelompok, siswa berdiskusi untuk mengerjakan lembar kerja.hasil pekrjaan siswa di analisis Selanjutnya, kegiatan belajar ditutup dengan postes 1 yang dikerjakan oleh siswa.

b.  Siklus 2 dilaksanakan kurang lebih sama dengan siklus satu. Untuk siklus 2, penjelasan yang diberikan guru berfokus pada cara menjawab soal, agar memperhaikan soal atau lemba kerja yang disediakan. Kemudian, siswa berlatih untuk memberikan jawaban yang lebih mengarah pada analitis dan kritis pada soal. Siklus 2 ditutup dengan postes 2 dan rangkuman oleh guru dan siswa tentang hal-hal yang telah dipelajari.
Sementara siklus 1 dan 2 berlangsung, 2 orang rekan guru melakukan observasi dengan menggunakan lembar observasi yang telah tersedia. Hasil observasi berupa data tentang proses belajar, situasi kelas, dan masalah yang dihadapi siswa (secara otentik berdasarkan nama siswa).
Setelah kegiatan belajar berakhir, guru menuliskan refleksi dari pelaksanaan kegiatan belajar mengajar yang dilakukannya.

3. Pengumpulan data dan analisis data
Data dikumpulkan dari hasil observasi rekan guru dengan menggunakan lembar observasi yang tersedia, dan dari tes hasil belajar (pretes dan postes) pada saat pelaksanaan tindakan selama 2 siklus, serta refleksi diri yang dilakukan guru terhadap kegiatan belajar mengajar yang telah dilaksanakan sebanyak 2 siklus.
Analisis data dilakukan terhadap dua jenis data, yaitu data kualitatif berupa catatan hasil observasi guru serta catatan refleksi guru, dan data kuantitatif berupa skor pretes dan postes hasil belajar siswa.
Untuk data kualitatif dicari key point dan juga informasi tambahan dari hasil observasi, kemudian dirangkum hal-hal inti yang perlu memperoleh perhatian dalam proses pembelajaran. Untuk data kuantitatif dicari gain score (skor perolehan antara) postes 1 dan 2. Hasil analisis keduanya kemudian dirangkum dan disimpulkan.

4. Refleksi dan Tindak Lanjut
Hasil analisis data beserta kesimpulannya didiskusikan guru dan rekan sejawat dalam pertemuan refleksi untuk mengkilas balik hal-hal yang sudah terjadi, kendala, dan faktor-faktor yang berpengaruh terhadap kegiatan belajar mengajar yang sudah dilaksanakan.
Guru mencatat masukan dan saran yang didiskusikan, kemudian membuat rencana perbaikan pembelajaran berikutnya berdasarkan masukan.

D.PTK SEJARAH KEBUDAYAAN ISLAM MTS KURIKULUM 2013

DAFTAR PUSTAKA


Aqib, Zainal, Penelitian Tindakan Kelas, Yrama Widya, Bandung, 2006. Arikunto, Suharsimi, Penelitian Tindakan Kelas, Bumi Aksara, Jakarta, 2008
Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik, Edisi Revisi, Rineka Cipta, Jakarta, 2004.
Bachman, Edmud, Metode Berpikir Kritis dan Inovatif, Prestasi Pustakaraya, Jakarta, 2010,
Daryanto, Evaluasi Pendidikan, Cet , Rineka Cipta, Jakarta, 2002.
Hamruni, Strategi dan model-model pembelajaran aktif menyenangkan, Fakultas Tarbiyah UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta, 2009.
Hujair AH. Sanaky, Paradigma Pendidikan Islam Membangun Masyarakat Madani Indonesia, Safiria Insania Press, Yogyakarta, 2003.
Hand out, Des entralized Based Educatio (DBE),
Ismail, Strategi Pembelajaran Agama Islam Berbasis PAIKEM, RASAIL, Semarang, 2008.
Khaerudin,dkk, KTSP dan implementasinya di madrasah, Pilar Media, Jogjakarta, 2007.
Mulyasa, Menjadi Guru Profesional, Remaja Rosdakarya, Bandung, 2008. Pribadi,Benny, Model Desain Sistem Pembelajaran, Dian Rakyat, Jakarta, 2009. Purwanto, Ngalim, Psikologi Pendidikan, Remaja Rosdakarya, Bandung, 2007. Purwanto, Evaluasi Hasil Belajar, Pustaka Pelajar, Bandung, 2010.
Syukur, Fatah, Teknologi Pendidikan, RASAIL, Semarang, 2005.
Sugiyono, Metode Penelitian Bisnis, Alfabeta, Bandung, 2004.
Syamsul Ma’arif, Pesantren vs kapitalisme sekolah, Need’s Press , Semarang, 2008. Tilaar, Manajemen Pendidikan Nasional, Remaja Rosdakarya, Bandung, 2008.
Uno, Hamzah, Orientasi Baru Salam Psikologi Pembelajaran, Bumi Aksara, Jakarta, 2008.
Margono, Metodologi Penelitian, P.T. Rineka Cipta, Jakarta, 1996.
Masrukin, Statistik Inferensial, Mitra Press, Kudus, 2004.
Muhaimin, Paradigma Pendidikan Islam Upaya Mengefektifkan Pendidikan Agama Islam Di Sekolah, PT Remaja Rosda Karya, Bandung, 2002.
Sutikno, M. Sobry, Pembelajaran Efektif: Apa dan bagaimana mengupayakannya?, NTP Press, Mataram, 2005.
Oemar Hamalik, Kurikulum dan Pembelajaran, Bumi Aksara , Jakarta, 2003. Purwadarminto, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Balai Pustaka, Jakarta, 2003.
Pusat dan Pengembangan Bahasa, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Balai Pustaka, Jakarta, 2000.
Sudjana,Nana, dan ibrahim, Penelitian dan Penilaian Pendidikan, Cet. 9, Sinar Baru Algesindo, Bandung, 2000.
Sholih Abdul Aziz dan Abdul Aziz Abdul Majid, At-Tarbiyah wa Turuku At-Tadris, Darul Ma’arif ,Mesir:, 1968.
Undang-undang RI, Nomor 20 tahun 2003, Tentang Sisdiknas, CV. Mini Yogya Abadi, Cet. 1, Jakarta, 2003.
Yuwono, Trisno, dan Abdullah, Pius, Kamus lengkap Bahasa Indonesia Praktis, Arkola, Surabaya, 2002.

Terima kasih telah berkunjung di Musiyanto Blog yang membahas  CONTOH PTK SKI SMP/MTS  TERBARU- ini dapat membantu Anda dalam penyusunan laporan Penelitian Tindakan Kelas (PTK).

Jika berkenan, mohon bantuannya untuk memberi vote Google + Rekomendasikan ini di Google untuk halaman ini dengan cara mengklik tombol G+ di bawah. Jika akun Google anda sedang login, hanya dengan sekali klik voting sudah selesai. Terima kasih atas bantuannya.